Penanganan cedera olahraga
Penanganan cedera olahraga
Narasumber : Novita Agustina, Ns, M.Kep, Sp.Kep. A ( RSMH Palembang)
Cedera olahraga sering dialami oleh para atlit atau orang yang sedang berolahraga.dibutuhkan penanganan yang tepat agar tidak berdampa buruk.
Prinsip‐prinsip dasar perawatan cedera olahraga yaitu yang pertama segera setelah terjadi cedera (0 sampai dengan 36 jam) dan 36 Jam Setelah Cedera.
Dalam penanganan pertama setelah terjadi cedera dilakukan dengan metode RICE, yaitu Rest (diistirahatkan), Ice/didinginkan (kompres es), Compression (balut tekan), dan Elevation (ditinggikan dari letak jantung).
· Rest. Segera istirahatkan bagian yang cedera. Tujuannya adalah untuk mencegah bertambah parahnya cedera dan mengurangi aliran darah (perdarahan) ke area cedera. Waktu istirahat tergantung pada berat ringannya cedera. Bila terjadi cedera di tungkai gunakan kruk untuk menghindari tumpuan pada tungkai yang cedera, dan untuk cedera di lengan gunakan splint.
· Ice. Tujuannya adalah melokalisir cedera, mematirasakan ujung syaraf sehingga dapat mengurangi nyeri, mencegah pembengkakan, mengurangi perdarahan (vasokonstriksi). Cara kompres es: es ditempatkan di dalam kantong es atau es dibalut pada handuk kecil, kemudian es tersebut diletakkan pada bagian yang cedera selama 2-3 menit sampai rasa sakit hilang (pembengkakan dirasa berkurang/membaik) intervalnya 20-30 menit. Jangan terlalu lama mengompres karena dapat mengakibatkan rusaknya jaringan tubuh dan vasodilatasi berlebihan. Jika tidak ada es dapat diberikan evaporating lotion, zat-zat kimia yang menguap dan mengambil panas misalnya : chlorethyl spray. Pemberian obat-obatan juga dapat diberikan untuk mengurangi rasa sakit/nyeri misalnya obat-obatan yang tergolong anti inflamasi dan analgesik. Obat-obatan yang tergolong anti inflamasi : papase, anti reumatik, kortikosteroid, dan lain-lain. Obat-obat yang tergolong analgesik : antalgin, neuralgin, panadol, aspirin, asetosal, dan lain-lain.
· Compression. Tujuannya adalah untuk mengurangi pembengkakan ssebagai akibat perdarahan dan untuk mengurangi pergerakan. Balut tekan adalah suatu ikatan yang terbuat dari bahan elastis seperti : elastic bandage, tensio krep, atau benda-benda lain yang sejenis. Ikatan harus nyaman dan jangan terlalu kencang karena dapat menyebabkan kematian jaringan-jaringan di sebelah distal ikatan. Tanda ikatan terlalu kencang: denyut nadi bagian distal terhenti atau tidak terasa, cedera semakin membengkak, penderita merasa kesakitan, warna kulit pucat kebiru-biruan, dan mati rasa pada daerah yang cedera.
· Elevation. Tujuannya adalah mengurangi perdarahan dan mengurangi pembengkakan. Dengan mengangkat bagian cedera lebih tinggi dari letak jantung menyebabkan aliran darah arteri menjadi lambat (melawan gravitasi bumi) dan aliran darah vena menjadi lancer sehingga perdarahan dan pembengkakan berkurang. Hasil-hasil jaringan yang rusak akan lancer dibuang oleh aliran darah balik dan pembuluh limfe.
Dalam menangani cedera baru (0-36 jam) jangan melakukan HARM, yaitu: Heat (kompres panas), Alcohol, Running, dan Massage.
· Heat. Kompres panas tidak boleh dilakukan karena akan menyebabkan peningkatan aliran darah ke bagian yang cedera sehingga menyebabkan pembengkakan semakin parah.
· Alcohol. Merendam daerah yang cedera dengan alkohol dan meminum minuman yang mengandung alkohol akan memperparah bagian yang cedera dan menyebabkan pembengkakan semakin parah.
· Running. Jangan mencoba untuk berlari, hal ini dapat memperparah bagian yang cedera.
· Massage. Massase sangat tidak dianjurkan pada cedera baru, karena jika dilakukan massase akan merusak jaringan yang sudah cedera dan memperparah cedera sehingga penyembuhan bagian yang cedera tidak akan maksimal.
Pemberian kompres panas dapat dilakukan 36 jam setelah cedera tujuannya mencerai beraikan traumatic effusion atau cairan plasma darah yang keluar dan masuk di sekitar tempat yang cedera sehingga mudah diangkut oleh pembuluh darah balik dan limfe, memperlancar proses penyembuhan dan mengurangi rasa sakit karena kejangnya otot. Pemberian kompres panas intervalnya 20-30 menit. Fisioterapi berupa massage, penyinaran (infra red), menggunakan alat bantu seperti decker atau elastic bandage dapat diterapkan pada tahap ini.
Referensi:
Artanayasa, I. W., & Putra, A. (2014). Cedera pada pemain sepakbola. Seminar Nasional FMIPA UNDIKSHA IV, 345–353.
Fauzi, I. B. (2017). Klasifikasi cedera, pemahaman penanganan, dan lokasi cedera pada saat latihan penari sanggar omah wayang kabupaten Klaten.
Potter, P. ., & Perry, A. . (2011). Fundamental of nursing (7th ed.). JAkarta: Elsevier.
WHO. (2014). Revised WHO classification and treatment of childhood pneumonia at health facilities: evidence summaries. Switzerland.
Widhiyanti, K. A. T. (2018). Pencegahan dan perawatan cedera. Pustaka Panasea Yogyakarta, 1(1), 1–88.
Sumber foto: https://www.pngdownload.id/png-ui2pz5/download.html
( DOC, PROMKES,RSMH)

Komentar
Posting Komentar