Enhanced Recovery after Caesarean Section (ERACS)
Enhanced Recovery after Caesarean Section (ERACS)
Narasumber : Cindy Kesty,
Nuswil Bernolian (RSMH, Palembang)
Konsep enhanced
recovery after surgery (ERAS) pertama kali diperkenalkan oleh Henrik Kehlet dari
Denmark di majalah British Journal of Anaesthesia pada tahun 1997.
Makalah tersebut membahas mengenai intervensi berdasarkan evidence based pada tahap persiapan operasi, intraoperatif, dan
pascaoperasi untuk meningkatkan luaran pasien. ERAS dideskripsikan sebagai
penatalaksanaan perioperatif berbasis multimodal untuk mendapatkan pemulihan segera
kondisi pasien pascaoperasi dengan cara menjaga fungsi organ preoperatif dan
menurunkan respon stres selama operasi. Pada tahun yang sama, komunitas
dan kelompok penelitian ERAS didirikan dan sampai saat ini komunitas ERAS telah
menerbitkan beberapa pedoman berbagai spesialisasi bedah termasuk thoraks,
kardiovaskular, digestif, ginekologi, dan urologi.
Enhanced
recovery after cesarean section (ERACS) atau ERAS pada persalinan sesar terdiri dari
optimalisasi pelayanan antepartum, pelayanan intrapartum termasuk manajemen
anestesi dan pelayanan postpartum pasien rawat inap dan rawat jalan
sehingga tercipta pedoman yang terstandarisasi. Terdapat beberapa variasi terminologi
ERAS pada operasi seksio sesarea yang dapat kita temui, yaitu enhanced recovery after surgery in caesarean delivery (ERASCD), enhanced recovery after caesarean (ERAC), dan enhanced recovery after caesarean section (ERACS). Pada artikel
ini, istilah ERAS pada operasi seksio sesarea yang akan digunakan selanjutnya
adalah ERACS. Protokol ERACS bertujuan untuk menstandarisasi perawatan
perioperatif pasien hamil, dengan mengurangi variabilitas dalam pelayanan dan
menciptakan suatu pedoman perawatan pasien berdasarkan evidence based untuk mempercepat pemulihan dan meningkatkan luaran
kesehatan ibu dan janin pascaseksio sesarea.
Seksio sesarea merupakan tindakan
operatif yang paling banyak dilakukan di bidang obstetri dan ginekologi. Dalam
beberapa tahun terakhir, angka seksio sesarea meningkat pesat. Tingkat operasi
seksio sesarea secara global mencapai 21% pada tahun 2015. Di Amerika Serikat,
tingkat seksio sesarea meningkat menjadi 32% pada tahun 2017, dengan lebih dari
1,27 juta prosedur dilakukan setiap tahun. Di Indonesia berdasarkan data
Riskesdas tahun 2018 angka kelahiran dengan operasi seksio sesarea sebanyak
17,6% dengan tingkat seksio sesarea tertinggi di Jakarta yaitu 31,1% dan
terendah di Papua yaitu 6,7% dari jumlah persalinan.
Beberapa keluhan
yang paling banyak ditemukan pada pasien pascaseksio sesarea yaitu mual, muntah
dan gatal dimana keadaan ini dapat diperberat dengan penggunaan analgesia
tertentu seperti opioid neuraksial. Komplikasi lain seperti menggigil juga umum
ditemukan pada pasien yang menjalani persalinan sesar, khususnya yang mendapat
anestesi spinal. Keluhan-keluhan yang disebutkan ini dapat meningkatkan biaya
rawat inap, menurunkan kepuasan ibu selama proses perawatan, dan dapat menjadi
suatu hal yang traumatis bagi pasien. Oleh karena itu, ERACS dikembangkan untuk
menangani keluhan perioperatif yang memiliki penyebab multifaktorial. Protokol
ERACS sendiri telah ditunjukkan mampu menurunkan insiden mual, muntah dan
pruritus serta mendukung untuk mempertahankan normotermia seperti dengan
memberikan beberapa obat tambahan.
Perawatan pascaoperasi seksio
sesarea di negara maju menjadi permasalahan yang sangat penting. Upaya untuk
memperpendek lama perawatan dan penyembuhan pasien pascaoperasi dilakukan agar
lama perawatan di rumah sakit tidak lebih dari 24 jam. Saat ini, di Indonesia teknik
ERACS sudah mulai diterapkan dengan menitikberatkan kerjasama yang kuat
interdisiplin ilmu kedokteran. Teknik ERACS memungkinkan pasien sudah dapat
duduk sambil menyusui setelah dua jam pascaoperasi, mobilisasi dini, makan
minum seperti biasa dan diharapkan dalam kurang dari 24 jam pasien sudah dapat
kembali beraktivitas. Dengan adanya ERACS, pasien akan merasa nyaman dan
mendapatkan pengalaman service excellent yang menyenangkan.
Pada studi kualitatif yang menilai
persepsi ibu terhadap tindakan seksio sesarea tanpa protokol ERACS menunjukkan
ibu hamil merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan karena tidak
diedukasi mengenai risiko prosedur tertentu. Selain itu, hampir seluruh pasien
tidak dilakukan pelepasan kateter segera dimana hal ini dapat menghambat
mobilisasi pasien. Oleh karena itu, ERACS berusaha mengatasi masalah ini dengan
memberikan informasi sebelum menjalani prosedur dan melepas kateter urin
setelah seksio sesarea sesegera mungkin untuk meningkatkan mobilisasi dini
sehingga memperpendek lama rawat inap.
Pada salah satu studi di Cina yang
menguji perbedaan biaya antara pasien yang menjalani protokol ERACS
dibandingkan terhadap kontrol, menemukan bahwa terdapat perbedaan signifikan
biaya rawat inap yaitu pasien yang menjalani protokol ERACS memiliki biaya rawat
inap yang lebih rendah dibandingkan grup kontrol. Penelitian lain yang menilai lama
rawat pascaoperasi menemukan rata-rata lama rawat pascaoperasi lebih singkat
pada pasien yang menjalani protokol ERACS dibandingkan kontrol.
Secara ringkas, tindakan ERACS pada operasi seksio
sesarea adalah sebagai berikut:
A. Preoperasi
1.
Informed consent dan penjelasan menyeluruh
kepada pasien dan keluarganya.
2.
Optimalisasi hemoglobin.
3.
Puasa makanan berat 6-8 jam sebelum operasi.
4.
Pemberian minum non-partikulat 2 jam sebelum operasi.
5.
Antibiotik profilaksis 30–60 menit sebelum operasi
menggunakan antibiotik golongan sefalosporin generasi I atau II.
B. Intraoperasi
1.
Pemberian obat-obatan anestesia, analgetik dan antiemetik
yang adekuat.
2.
Insisi transversal/mediana.
3.
Mengeluarkan bayi.
4.
Menunda penjepitan tali pusat, 30 detik pada bayi prematur
dan 60 detik pada bayi aterm (Gambar 1).
5.
Menjahit luka operasi dengan tidak mengeluarkan uterus dari
kavum abdomen.
6.
Tidak mencuci kavum abdomen atau jika sangat dibutuhkan,
dicuci secara minimalis (dimasukkan air sedikit saja dan dicuci di bagian
segmen bawah rahim).
7.
Menutup luka operasi lapis demi lapis.
8.
Tidak memberikan misoprostol oral/rektal pada pasien untuk
menghindari efek menggigil.
9.
Tetap memberikan oksitosin sesuai dosis tetapi tidak boleh
memberikan cairan lebih dari 3 liter.
10.
Suhu ruangan kamar operasi disesuaikan antara 23–25oC.
11.
Tetap melakukan inisiasi menyusu dini (Gambar 2).
Gambar 1. Persalinan sesar dengan prosedur delayed cord clamping.
Diambil
dari dokumentasi pribadi
Gambar 2. Inisiasi menyusu dini setelah operasi dan maternal-infant bonding
Diambil
dari dokumentasi pribadi
C. Pascaoperasi
1.
Menghindari pasien dan bayi dari risiko hipotermi.
2.
Pasien langsung diberikan minum dan makan pascaoperasi
(Gambar 3).
3.
Kateter dilepas 2 jam pascaoperasi, pasien bisa belajar
mobilisasi (Gambar 4).
4.
Infus dilepas 12 jam pascaoperasi, pasien bisa mobilisasi
penuh.
5.
Pemeriksaan darah dilakukan 12 jam pascaoperasi.
6.
Pasien dapat dipulangkan 24-48 jam pascaoperasi.
7.
Dukungan laktasi.
Gambar 3. Makan dan minum segera setelah operasi
Diambil
dari dokumentasi pribadi
Gambar 4. Mobilisasi dini
Beberapa testimoni
dari para ibu yang sudah menjalani ERACS, yaitu
Ny. Mareta Dwiyani Putri – Palembang
Alhamdulillah hari Minggu tanggal 27 Juni 2021 pukul 06.15 WIB, telah lahir putri kedua kami dengan sehat dan selamat. Saya lahiran dengan menggunakan metode ERACS, Alhamdulillah 6 jam setelah operasi sudah bisa bergerak dan duduk, 12 jam setelah operasi saya sudah bisa mobilitas, dan 24 jam setelah operasi saya sudah bisa pulang kembali ke rumah dan melakukan aktifitas seperti biasa. Semoga dengan cara ini bisa dapat mempermudah dan mempercepat kesembuhan bagi ibu-ibu yang akan melahirkan dengan metode ERACS selanjutnya.
Ny. Ririn Indriani Machmud - Palembang
Pemulihan lebih cepat, terpapar di rumah sakit lebih sebentar, istirahatnya lebih enak dan lebih lama di rumah. Selain itu, tidak terlalu terasa nyeri, hanya terasa kontraksi. Saya merekomendasikan ibu-ibu untuk menggunakan ERACS agar lebih cepat ketemu bayinya dan ibunya lebih cepat pulih untuk mengurus bayinya, apalagi anak pertama. Terima kasih.
Ny. Faradillah Shahab - Palembang
Pemulihan lebih cepat, recovery lebih cepat tidak
nyeri, 1 minggu bisa aktivitas normal. Seksio sesarea ke-3 lebih cepat
pemulihannya, jahitannya lebih cepat kering, sekarang masih nyeri bila saat
kegiatan berat, dan juga terpapar di rumah sakit lebih sebentar. Saya
merekomendasikan prosedur ini lebih oke dibandingkan dengan SC sebelumnya lebih
enak dan nyaman. Terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Greenshields N, Mythen M. Enhanced recovery
after surgery. Curr. Anesthesiol (2020) 10:49–55.
2.
Steenhagen E. Enhanced recovery after
surgery: It’s time to change practice. Nutr Clin Pract 2016;31:18–29.
3.
Bollag L, Lim G,
Sultan P, Habib AS, Landau R, Zakowski M, dkk. Society for obstetric anesthesia and perinatology: Consensus statement and recommendations for enhanced recovery after cesarean. Anesth Analg.
2021; 132(5):1362-77
4.
Liu ZQ, Du WJ, Yao SL. Enhanced recovery after
cesarean delivery: A challenge for anesthesiologists. Chin Med J (Engl).
2020;133(5):590-596.
5.
Kemenkes,
Republik Indonesia (2018). Laporan Nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Kemenkes
RI, 154-66.
6.
Pan J, Hei Z, Li L, Zhu D, Hou H, WU H, dkk. The
advantage of implementation of enhanced recovery after surgery (ERAS) in acute
pain management during elective cesarean delivery: A prospective randomized
controlled trial. Ther Clin Risk Manag. 2020;16:369-378.
7.
Teigen NC, Sahasrabudhe N, Doulaveris G, Xie X,
Negassa A, Bernstein J, dkk. Enhanced recovery after surgery (ERAS) at cesarean
delivery to reduce postoperative length of stay: A randomized controlled trial.
Am J Obstet Gynecol. 2020;224(4):372.e1-372.e10
8.
Darwish A. Enhanced recovery versus conventional
care after cesarean section: Role of nursing. ClinicalTrials.gov 2021
Identifier: NCT04360382.
9.
Panda S, Begley C, Daly D. Clinicians views
of factors influencing decision-making for caesarean section: a systematic
review and metasynthesis of qualitative, quantitative and mixed methods
studies. PLoS ONE 2018;13: e0200941.
10. Ituk U, Habib AS. Enhanced recovery after cesarean
delivery. F1000Res. 2018;7:F1000 Faculty Rev-513.
11. Mullman L, Hilden P, Goral J, Gwacham N, Tauro C, Spinola K,
dkk. Improved outcomes with an enhanced recovery approach to cesarean
celivery. Obstet Gynecol. 2020;136(4):685-691.
12. Kurniawaty J, Sudadi,
Anindita MP. Manajemen preoperatif pada protokol enhanced recovery after
surgery (ERAS). J Komp Anes 2018:5(2): 61-72
13. Wollny
K, Corrigan C, Metcalfe A, Drobot A,
Gilmour L, Wood S, dkk. Maternal perceptions of cesarean delivery Care: A qualitative study to inform ERAS guideline development. Birth. 2021;00:1-8
![]()
Komentar
Posting Komentar